Sabtu, 08 September 2012

DAY 2: LITTLE BITES OF DRESDEN


Pagi-pagi sekali perut sudah minta diisi, padahal seisi rumah yang lain belum bangun. Zum Glueck war es LITTLE BITES. Apa yang ada di dalam?



Tentu saja, bruschetta berpasangan dengan sweet chilli dip. Mmmm, asiatisch. Lecker.



Cream crackers dengan cheese spread. A la Eropa sekali.


Dan orang Indon mana pernah tahan tanpa sambal. Hasilnya? Mmmm, leckerer. Lebih berasa.


Ah, hari sudah terang. Dari jendela kamar saya dapat melihat gereja yang membunyikan loncengnya pagi-pagi sekali.


Cokelat dari pria baik hati di kereta. Bagaimana isinya? Kita lihat nanti.

Hari itu hari Rabu kalau tidak salah. Saya dan Gwendolyn, host sister saya, dan temannya, Marie Luise jalan-jalan ke Dresden. Toko-tokonya cantik. Udara agak panas dan kami haus, jadi kami berhenti di kedai es krim kecil dengan papan bergambarkan es krim. Menu dipajang di dinding dan es krim yang tersedia ditandai dengan cawang merah. Hari itu banyak pilihan. Saya bisa saja mengambil es krim vanila seperti biasa, tetapi es krim yang terlalu manis akan membuat saya haus lagi, jadi saya ambil Zitronen Sorbet atau sorbet jeruk. Rasanya manis, kecut, segar.... Hmmm, tetapi bukan selera saya. Saya meringis-ringis menahan kecut dan menghibur diri dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa saya tidak akan haus lagi sementara Gwendo menikmati es krim peanut butter dan cokelat yang, setelah saya cicipi, begitu nikmat, manis, dan lembut. Marie Luise makan es krim cokelat dengan potongan brownies yang tidak saya cicipi--saya tidak dekat dengannya.


Ah, itu dia! Sebelumnya di peta Jerman di kelas saya sudah melihat ikon Dresden ini, dan sekarang saya melihatnya dengan mata kepala sendiri. Tetapi kami hanya melewatinya, sebagaimana orang-orang di sekelilling kami.


Sore hari ibu Gwendolyn menjemput kami, saya dan Gwendolyn. Kami berhenti di dekat padang rumput karena Gwendolyn ingin memetik bunga matahari untuk rumah, dan beberapa serangga beterbangan di atas kepala saya, tetapi mereka tidak bisa mengikuti ketika mobil hijau ibu Gwendo, yang telah disulap menjadi mobil sport untuk sementara, melaju kencang.


Dari kamar Gwendo.

xo gege arasy

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar