Selasa, 22 Januari 2013

BAWANG PUTIH

Ya Allah.. Maturnuwun sanget, saya masih dikasih kesempatan nyium harumnya bawang putih ditumis dari dapur..
Kemarin dan hari ini saya masak oseng-oseng kangkung :) aduh bingungnya setengah mati cari resep. Ini pakai kecap atau enggak? Kecapnya asin atau manis? Tanya ke sana kemari, lihat sini situ, akhirnya ketemulah resep oseng-oseng atau tumis kangkung, dari tante saya yang jago bikin itu dan oseng-oseng kangkungnya uenak. Tapi langkah-langkah memasaknya lihat di internet. Buat yang belum bisa bikin oseng-oseng kangkung, ini resepnya, agar tak susah hati seperti saya:

Kangkung dipetiki. Batangnya yang empuk ikut dimasak, yang keras dibuang. Nemu ulat daun satu kecil.... hiiii geli.... tapi gak boleh jijik. Malah bagus, kan tanpa pestisida. Cuci bersih kangkung.

4 siung bawang merah, 4 siung bawang putih. Kalau punyanya bawang bombai doang, acuannya: 4 siung bawang merah sama dengan 1 bawang bombai. Tante saya enggak nyebutin bumbunya harus diapakan, jadi saya iris saja, tipis-tipis dan kecil-kecil menurut perasaan. Setelah itu ditumis dengan minyak, sampai harum.

Mmmmmm....

Setelah itu masukkan kangkung, masak sebentar sampai layu. Selama itu saya masukkan sedikit air, jangan sampai banjir, yah, sedikit kuah lah. Lalu kecap manis. MANIS :) Setelah kangkung layu, saya masukkan garam dan gula. Merica enggak usah. Kuncinya adalah: jangan pelit bumbu. Jangan. Tambahkan sampai rasanya benar-benar persis buatan ibu.

Oseng-oseng kangkung yang kekurangan rasa pedas bukan oseng-oseng kangkung beneran. Biasanya sih ditambahkan irisan lombok besar, sayangnya di toko cuma ada cabe rawit. Masa mau saya irisi cabe rawit? Bisa kebakar ini perut. Tapi saya punya cabe kering, jadilah saya pakai itu.

Mmmmmm....


Kalau di kamus internasional ejaannya pakai H. Saya kira ini tempe enggak enak, ternyata empuk ahoy! Kapasnya dapet banget. Ada dua tempe di toko, yang satu berdiskon, yang satu lebih mahal. Saya pilih tempe yang lebih mahal. Tempe berdiskon itu betul sudah lebih dekat ke tanggal kadaluarsa dan ada kemungkinan nanti rasanya buluk, seperti pernah saya alami ketika menggoreng tempe yang sudah lama berdiam di kulkas.


Bikin klepon juga. Atau ronde, tapi kalau mau dibilang ronde isinya bukan enting-enting kacang. Saya baru pertama kali bikin klepon sendiri dan menikmati bagaimana tepungnya bercampur mudah dengan air.

Jangan ketipisan bikin klepon, nanti pecah. JUGA JANGAN KETEBALAN. Gulanya enggak cair! Saran lain, sisir gulanya benar-benar halus.


Saya sayangnya--dulu--enggak punya pengetahuan bagaimana bentuk kangkung. Selalu sudah dalam mangkuk. Jadi bingung, putar-putar di depan kulkas di toko. Eh ada tulisannya! Kangkung. Tapi datangnya dari Thailand. Emang di Thailand sebutannya kangkung juga?


Gula merah, juara banget. Yang ini bersih tanpa daun-daun kecil yang biasanya ada di gula merah tradisional.


Tadaaaa! Ini tempe goreng pakai Kobe, ngirisnya nggak terlalu tebal. Itu kemarin. Hari ini saya tepungnya ngarang sendiri :) aduk tepung dengan air, tambahkan garam, merica, dan bubuk cabe secukupnya. Krius-krius hasilnya. Minyaknya juga enggak usah kalap, asal pintar dan tepat waktu aja balik tempenya.


Wedang ronde klepon kuah angsle. Santannya dipanaskan dengan gula dan garam, diaduk-aduk biar nggak pecah, sampai mendidih. Pandan tak punya, jahe orang rumah tak suka :(


Sisa klepon, di pagi hari bikinnya. Dimakan dengan susu buat sarapan, kayak sereal.

xo gege arasy

2 komentar:

  1. kenapa warnanya merah muda??
    sedih ya semua makanan kita dari thailand

    BalasHapus
  2. aku gak nemu daun pandan \:D/

    BalasHapus