Rabu, 06 Maret 2013

Cantik Itu....

Dulu banget, Jo nggak pernah kuatir tentang badannya sendiri. Kalau teman-temannya meributkan kulit kasar atau terlalu banyak rambut tumbuh di kaki, reaksi Jo adalah, "Waduh." Ini memang bentuk tentangan terhadap cermin yang membuat kebanyakan wanita tidak nyaman, tapi juga bikin Jo keramas cuma seminggu sekali.

Tapi dulu banget nggak pernah bertahan. Jo tumbuh dan mulai berpikir soal keatraktifan.
Dan media mendukung--sekaligus tidak.

"Ingin putih? Suntik kolagen! Ahli, hanya 75 k."

Untungnya putih tidak termasuk dalam daftar poin keatraktifan Jo, dan Jo masih pintar meskipun bukan 3 teratas di kelasnya.



Kata Bu Dokter Kulit, Jo pernah baca di koran, kulit yang cantik adalah kulit yang sehat. Kata koran juga, yang bisa disamakan dengan burung hantu lambang kepintaran, orang Asia memang dikasih Tuhan kulit yang rada-rada gelap supaya kalau terekspos matahari resiko kanker kulitnya nggak besar-besar amat. Buku biologi juga bilang tampilan fisik orang memang sesuai dengan daerahnya (yang Jo nggak ngerti waktu masih SD, tapi sekarang ngerti).

Jadi Jo nggak paham kenapa itu judulnya 'Rumah Cantik' dan bukan 'Rumah Putih' kalau isinya putih, putih, dan putih. Massa juga suka ngeluh mereka 'item'. Tunggu sampai mereka lihat orang Afrika!

Malahan kulit 'item' bersinarnya orang Afrika itu bikin mereka punya kecantikan khas, dan disukai para pejabat fashion, dibandingkan yang ribut putih-putih.

Okelah kalau soal selera.... Apalagi selera orang memang criss cross, orang Asia suka rangka Kaukasia, orang Eropa suka yang petite, eksotis (baca: a la Asia). Tapi mbok ya ndak usah menggembor-gemborkan sampai ke bentuk diskriminasi, gitu prinsip Jo.

Diskriminasi itu sudah jadi bentuk guyonan sampai jadi bukan diskriminasi lagi. "Ah, kamu sudah kecil, item, hidup lagi!" Itu kan cuma guyonan. Nggak molor kamu, demikian belahan otak Jo yang lain memarahi belahan sini. E e e, bela belahan otak Jo yang sini, Rasul mengajarkan kita harus berhati-hati dengan ucapan! Itu kan menyangkut harga diri.

Harga diri itu kayak benda kesayanganmu digantung dengan tali yang tipiiiis. Kesenggol dikit goyang dan lama berhentinya. Bahkan kadang ditampar ke sana kemari oleh beberapa situasi. Segitu.

Dan massa yang mengeluh 'item' itu malah mendiskriminasi diri mereka sendiri.

Kalau mau dibahas dalam spektrum yang lebih luas, diskriminasi kecil macam 'item-iteman' bisa mengarah ke foto itu. Itu tuh, yang ada dua orang kulit hitam digantung dan orang-orang kulit putih ekspresinya macam puas.

Stop. Serius banget, Jo. Sekarang ke sesuatu yang menggelitik, yang benar-benar, seperti.... rambut ketiak.

"Waduh, rambut ketiakmu banyak banget! Panjang lagi," komentar teman-teman Jo. Jo jadi punya dua pilihan, 1) mencukur rambut ketiak sesuai dengan sunnah Rasulullah, 2) mencukur untuk tren. 3) (lho lho lho.... menambahkan seenaknya sendiri) tidak mencukur. Niat untuk tren itu gak sesuai banget dengan sunnah Rasul. Apalagi alasan nomor 3 didukung dengan, "rambut ketiak mencegah gesekan intens antara dua permukaan yang bisa menimbulkan iritasi".

Jo iri dengan temannya yang cuma pernah punya satu helai rambut ketiak, itu pun putus setelah beberapa saat. Atau adik sepupunya yang cuma punya sedikit rambut ketiak. Tapi Jo juga gak mau melukai hatinya sendiri. Teman-temanku punya andil dalam kecantikanku, tapi cuma sedikiiiit.

Namun bagaimanapun Jo mencukur rambut ketiaknya, masih bimbang antara dua alasan.

"Itu harusnya ke atas dikit, ke tengah dikit!" Jo 'beruntung' karena diberitahu awal, tapi....

Waduh. Bahkan lingkungan sendiri kadang gak bisa mendukung lagu Lady G yang kontroversial (Lady nya yang kontroversial) 'Born This Way'.

Di lain pihak, Change is needed, kata bapak Barrack.

Jo pernah ngerasa risih dan menganggap tidak penting untuk berbicara tentang badan, tapi sekarang Jo ngerti. Di sini Jo akan memberitahumu bahwa NORMAL kamu meributkan badanmu, asal tidak berlebihan. Bahkan kamu bisa mencegah penyakit. Beberapa orang, termasuk Jo, gak punya keberanian memberitahukan bahwa mereka merasa ada yang aneh dengan badannya, kawan mereka hanyalah cermin yang membuat mereka bertanya-tanya makin jauh. UNTUNG ada internet. Situs ini sempat membuat mata Jo berkaca-kaca, membahas d_d_ turun dan sebagainya (khusus cewek!).

Tapi internet hanya menggantikan dukungan lingkungan untuk sementara, yang sangat penting, lebih penting bentuknya. Setelah kamu baca ini, mungkin kamu bisa memberikan dukungan kepada temanmu yang bau ketek dengan mengatakan, "Aku punya sesuatu untuk dibicarakan denganmu," dan memulai pembicaraan lembut alih-alih, "Waduh! Bisa gak pakai Rexona?" Dia bukannya gak nyadar kok, kalau dia bau ketek. Malahan Rexona-nya dia gantung di tali yang sangat tipis tadi.

Orang-orang yang menerima Jo apa adanya ("aku gak peduli, yang penting bla bla........") dan malah kadang-kadang kesal kalau Jo ngomel kakinya kependekan diharapkan ngerti juga dan malah jadi alasan Jo mau membicarakan perasaannya terhadap badannya. Untuk yang merasa ada yang bermasalah dengan d_d_nya, coba ke sini.

Itu SANGAT normal. Tapi ingat foto-foto badan jam pasir itu bukan gambaran normal! Kebanyakan malah kena sentuhan editan. Jadi ia bukan dasarmu untuk meributkan badanmu dan bukan dasarmu untuk mengkritik orang lain yang gambarnya gak sesuai.

Dan ketika kamu meributkan badanmu, sangatlah nyaman dicintai orang-orang seperti ini.... dan mereka, di luar perkiraanmu, banyak lho....

"Physical appearance is important, but when I imagine the woman of my dreams, I think of a woman who is confident, loyal, and loves me with all her heart. Everything else is negotiable."

"I think he'd like it if I had this and that, but he's always said he loves my body because it's me."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar