Kamis, 06 Juni 2013

Mustika Ratu

Nama toko itu TOKO [....]. Entahlah, namanya terdiri atas dua patah kata, tapi saya nggak bisa ingat yang belakang. Saya curiga itu toko pernak-pernik Meksiko, habis di film Chipmunks, waktu Alvin dan kawan-kawan ke negeri itu, mereka masuk ke toko dan menyebutnya TOKO juga. Eh waktu masuk baunya dupa sekali.
Dulu saya benci banget bau dupa, risih dan harus menutup hidung, bahkan sampai ingin pingsan segala. Waktu makan di restoran hotel Bali saya sampai nggak bisa tenang karena bau dupa menguar di mana-mana dari kotaknya. Tapi waktu kembali lagi ke Bali, entah kenapa saya jadi menikmatinya. Apalagi setelah jauh dari kampung halaman! Bau dupa bukan sembarang, dia membawa saya pulang ke rumah. Bukan itu saja, jreng! Tampak di depan mata saya penari Bali dalam bentuk patung. Seharusnya saya tahu itu dari Indonesia, karena ia mengenakan mahkota bunga raksasa dan kemben, tapi saya masih membantah pemikiran itu karena dia bisa juga datang dari Thailand, dan karena barang-barang asia lainnya bertebaran di toko. Tapi tidak banyak. Ada bola-bola Yin Yang dari Cina (ada tulisannya, yang saya tidak bisa baca), dan lainnya yang tidak saya ingat. Tapi lalu ada topeng-topeng batik memenuhi dinding. Hati saya langsung senang. Saya tunjuk, 'Itu dari Indonesia'. Tapi saya membohongi hati, wong saya tidak yakin, meskipun mereka persis topeng batik yang di rumah dan yang mau dibawa Ibu sebagai suvenir buat teman-teman bulenya. Ada instrumen musik yang pernah saya lihat di Bali, di sebelah keranjang-keranjang bambu dan peti kayu berlukiskan matahari yang terkesan murahan, itu lho, instrumen musik dengan bilah-bilah besi yang kalau ditekan-tekan dengan jari akan mengeluarkan nada berbeda-beda.



Ada patung-patung seperti di rumah Pakdhe Gatot, kayu dengan rambut pudar a la orangtua dan bibir jontor. Gila, setelah melihat kertas bertuliskan 'LAMPU KAYU DARI JAWA' saya masih belum seratus persen lega.



Saya belum yakin sampai saya melihat puncaknya, botol cantik berisi minyak zaitun, Mustika Ratu!



Meski sudah boleh mencoblos dan mengemudi saya melompat-lompat kecil di hadapan botol gendut ini seperti punggawa rendahan yang akhirnya diberi kesempatan melihat wajah raja. Yang punya toko sepertinya ingin tahu ketika saya membawa kamera, namun saya harus mengambil resiko. Dia bule, dan saya senang karena mungkin dia pernah jalan-jalan di Indonesia dan terpesona lalu memutuskan membawanya pulang untuk dijual, lebih senang daripada kalau dia orang Indonesia asli yang bisa ngobrol mudah dengan saya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar