Senin, 10 Desember 2012

10/12

Hari ini dengan perut setengah terisi saya menyimpan sereal yang belum termakan (pandangan sedih, maaf ya, nanti kamu kumakan lagi kala kita berjumpa lagi.... hari Kamis). Saya menyambar topi wol dari laci berlabel Muetze dan Mama bersabda: "Tunggu!

"Topi itu punya teman Kaethi, kita akan kembalikan kalau dia datang ke sini. Mana topimu yang biru?" Ah.

Mungkin nyelempit di kursi, mungkin menggantung di gantungan baju, mungkin menggunduk kesepian di lemari yang kosong dan dingin.

"Mmmm...."

"Du hast Nasenhaare! Du hast Nasenhaare...." Nasenhaare? Rambut hidung? Ja, klar, ya, tentu saja, saya punya rambut hidung, pikir saya bingung. Apakah dia tidak punya sehingga lalu bertanya? Tangan saya sudah hendak naik untuk meraba bawah lubang hidung untuk memeriksa apakah rambut hidung saya sudah tumbuh lebat sampai keluar batas sehingga Mama bisa melihatnya (dan mungkin menginstruksikan untuk memotongnya) waktu otak saya bekerja.

Ya! Saya kan baru keramas. Nasse Haare, rambut basah.

Saya jadi inget kata teman saya, "Kalo orang lain ngetawain bodonya orang lain, kalo kita ngetawain bodonya kita sendiri."

Iya ya. Waktu itu saya, Naga, Gajah, Buaya, dan Panda ngumpul dengan bergaya: minum teh panas di rumah si Naga. Dasar lidah saya tidak tahanan, saya membiarkan teh saya yang masih ngebul sesekali dicuri seruput si Gajah, dengan tidak berdosa, pula.

Kami membicarakan (selain bodonya kami sendiri) geng dance yang baru ditonton si Gajah, geng cowok kemayu dalam baju ketat leopard print yang moto hidupnya: Cucok. Begini.

"Cuuuu...."

"Cok."

"Cuuuu...." kata Gajah.

Karena yang lain, herannya, diam, saya menyambung dengan baik hati, "Cok."

Alhasil teh tersembur dari mulut kawan saya, Gajah, yang sedang melakukan ritual kumur teh. Alih-alih segera mengepel lantai tuan rumah, dia melanjutkan terbahak-bahak, wow, reaksi besar untuk kata sekecil cok.

Anda tahu saya sangat terinspirasi oleh Junior MasterChef, dan hidangan siang ini adalah fried spagghetti with cheese sauce. Itu aslinya spageti yang sudah menginap di kulkas, tapi di tangan yang tepat bisa jadi fine dining. Kalau tepat.

Saya benci sekali telur. Karena si telur tidak ada, justru di saat saya butuh. Saya tuangkan susu ke dalam panci dan masukkan beberapa lembar keju Edam yang saya temukan setelah mematung di depan konter dingin khusus keju (kawan-kawan, saya persis Ringo Hijiri bukan? Belanja tahu dan acar timun setengah jam). Entah kenapa dahi saya butuh berkerut untuk memutuskan saya makan nyemil apa hari ini--sekarang saya lebih bisa menghargai ibu saya, dulu saya pikir memutuskan antara rawon dan soto tidak berpengaruh dalam seberapa cepat saya akan menjawab pertanyaan guru di sekolah, yang nyatanya IYA, mempertimbangkan gizi--tapi kalau dilihat dari kantong, maklumlah. Setiap kali belanja lama dan takut dituduh atau ditegur saya selalu punya satu alasan: saya kan siswa. Cari cemilan kebutuhan hidup yang awalan harganya 0. Sen an. Lihat dulu papan nama produk untuk mencari tahu netto nya sesuai panduan majalah.

Brava! Matt Moran mengetuk meja dengan buku-buku jarinya.

(bunyi sumbat karet ditarik)

"Hiyaaaa, mengapa kejunya menggumpal?? Aku BENCI keju!"

Beritanya, sekarang saya benci keju dan telur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar