Selasa, 09 Desember 2014

Bawang Bombai

Manusia itu sebutir bawang bombai. Sebelum ada yang marah-marah karena otak, jantung, dan paru-parunya diibaratkan segampang bola umbi kehijauan, saya mau mengoceh. Sebutir bawang bombai sebenarnya cuma, ya, tengahnya (yang bentuknya gimana masih misteri untuk saya karena terlanjur dipotong-potong) disembunyikan berlapis-lapis, berselubung-selubung tetek-bengek, kadang-kadang membuat mata perih atau sekadar menguarkan bau khas yang membuat perut berkeruyukan. Kecuali Anda alergi bawang bombai, bagian terluar bawang bombai adalah pembelaan atas diri sendiri, atas bagian paling tengah yang terlalu rapuh atau, entahlah, malu-malu dan lebih memilih langsung berakhir dalam sup, tanpa Anda perlu tahu apa sebenarnya yang sedang Anda makan.

Kalau sampai dia tahu, saya akan mengelupas wajah saya!

Mau ditaruh mana wajah saya?

Taruh di punggung?

Persis bagian terluar bawang bombai, pembelaan rasanya manis samar-samar. Membuat saya menolak mengajukan pertanyaan wajib, "Saya? Egois?" dan bahkan sudah sedia jawabannya sebelumnya, "Ah, egois itu sekali-sekali perlu kok buat kesehatan jiwa."

Administrasi jiwa, ya ampun, ternyata repot sekali. Tidak usah dipilah-pilah dan mari anut YOLO.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar