Bukan sekedar nasi runcing berwarna kuning dikelilingi bermacam-macam lauk, tumpeng adalah simbol seorang Indonesia, khususnya orang Jawa. Nasi yang ada dipikirkan sedemikian sungguh-sungguh, bagaimana agar rasanya lebih enak dari nasi biasa. Jika orang Bali punya nasi berwarna merah, maka orang Jawa punya yang berwarna kuning karena diberi kunyit. Sudah menarik begitu, nasi kuning masih dicetak bentuk kerucut.
Setiap orang yang membuat tumpeng, terutama ibu, selalu berlomba membuat yang paling baik. Ini adalah budaya yang patut dilestarikan karena memancing kreativitas. Orang dengan kelihaian memasak luar biasa belum tentu dapat menyusun tumpeng yang indah. Coba seorang koki dan ibu yang baisa menangani pesanan tumpeng berlomba membuat tumpeng, belum tentu koki yang menang.
Lauk tumpeng pun dibudayakan sama, meskipun tentu saja ada kreasi baru. Telur biasanya terlihat lucu karena didadar lantas digulung dan dipotong sesenti-sesenti. Apabila ada telur diceplok begitu saja dan ditaruh di tumpeng maka itu hampir bisa dikatakan menyalahi pakem.
Kemudian ada kering tempe. Di mana-mana kering tempe yang dijual bentuknya sama, kalau tidak korek api, ya, kotak-kotak tipis. Ini tidak diragukan lagi adalah suatu budaya yang nyeni, meskipun banyak orang tidak mengenalinya sebagai budaya, atau tidak sadar.
Tidak ketinggalan ada begedel alias kentang goreng bentuk bola dan mi telur yang dimasak goreng. Semuanya ini harus disusun sedemikian rupa sehingga orang yang melihat ingin langsung mengambil piring, tidak boleh campur aduk. Keterampilan menyusun sangat menentukan dalam lomba tumpeng. Seperti melukis, warna-warna tidak boleh saling menabrak dan meletakkan suatu bangun harus pada tempatnya.
Nasi kerucut biasanya diletakkan di tengah-tengah sebagai pusat. Kalau dalam melukis, ini mirip seperti segiempat yang digunakan sebagai pusat, dari mana seorang pelukis membuat sudut pandang. kemudian lauk ditata di sekelilingnya, kalau bisa penataannya menonjolkan satu sama lain. Ketika sudah selesai, sebuah tumpeng akan sama layaknya dengan benda-benda lain untuk dipajang di museum. Sebuah tumpeng adalah karya seni, budaya yang menarik.
*Tulisan ini dibuat pada tahun 2011.
Selasa, 31 Mei 2016
Senin, 30 Mei 2016
Ibu, apakah dunia ini?
(lampu fade in, menyorot tengah panggung)
(Ning sedang bermain dengan batu-batu. Ekspresi wajahnya polos. Lamat-lama terdengar tembang dolanan) (lampu menyeluruh)
Yo prakonco dolanan ing njobo
Padhang bulan padhange koyo rino
Rembulane sing awe-awe
Ngelingake ojo turu sore-sore
(Ning berlari-lari di atas panggung mengikuti suara, ekspresinya tertarik, seolah sedang bermain dengan sebayanya)
Ayo teman bermain di halaman
Terang bulan terang bagaikan siang
Rembulannya melambai-lambai
Mengingatkan jangan tidur sore-sore
(tembang hampir habis, Ibu memasuki panggung, wajahnya penuh kehangatan)
Ibu: Ning... ayo makan dulu!
Ning: Ya, Ibu.
(Ning menghampiri ibunya, mereka saling tersenyum lalu bergandengan tangan keluar panggun)
(lampu fade out)
(terdengar suara mesin jahit dan Ibu berdeham-deham)
(lampu fade in)
(Ibu sedang menjahit, ekspresinya tenang. Ning duduk di kursi sebelahnya sambil mengamati)
Ning: Ibu bikin apa?
Ibu: Baju.
(hening sejenak)
Ning: Ibu, apakah dunia ini?
Dunia ini adalah persepsi, Nak. Pandangan. Pandanglah dengan nurani yang lurus. Sehingga orang akan mendengar nurani itu dari apa yang kamu perbuat. Pemikiran tak mempunyai kebenaran atau kesalahan yang hakiki, tetapi nurani takkan menyalahi kebenaran atau membenarkan kesalahan. Nurani bicara sendiri.
Ning: Oke... (mengangguk) mmm... Bisa lebih sederhana lagi nggak?
Ibu: Ha ha ha... kamu pasti ngerti kok kalau sudah lebih besar.
Ning: Ibu sih... Pake bahasa tingkat tinggi.
Ning: Bu, aku takut jadi roang dewasa. Aku mau jadi anak-anak, terus sama ibu. Orang dewasa nggak boleh takut, soalnya, siapa yang nanti bilang sama anak-anaknya kalau gelap itu sebetulnya bumi lagi selimutan? Padahal aku masih takut, Bu... Dunia ini begitu besarnya.
Ibu: Ibu ngerti. Kamu tidak perlu takut, Ning... Jadi orang dewasa sama enaknya kok. (tersenyum)
Ning: Sama sulitnya, maksud Ibu.
Ibu: Iya.
Ning: Berarti gampang dong.
Ibu: Lha, gampang nggak jadi anak-anak?
Ning: Nggak terlalu sih...
(lampu fade out)
(Ning sedang bermain dengan batu-batu. Ekspresi wajahnya polos. Lamat-lama terdengar tembang dolanan) (lampu menyeluruh)
Yo prakonco dolanan ing njobo
Padhang bulan padhange koyo rino
Rembulane sing awe-awe
Ngelingake ojo turu sore-sore
(Ning berlari-lari di atas panggung mengikuti suara, ekspresinya tertarik, seolah sedang bermain dengan sebayanya)
Ayo teman bermain di halaman
Terang bulan terang bagaikan siang
Rembulannya melambai-lambai
Mengingatkan jangan tidur sore-sore
(tembang hampir habis, Ibu memasuki panggung, wajahnya penuh kehangatan)
Ibu: Ning... ayo makan dulu!
Ning: Ya, Ibu.
(Ning menghampiri ibunya, mereka saling tersenyum lalu bergandengan tangan keluar panggun)
(lampu fade out)
(terdengar suara mesin jahit dan Ibu berdeham-deham)
(lampu fade in)
(Ibu sedang menjahit, ekspresinya tenang. Ning duduk di kursi sebelahnya sambil mengamati)
Ning: Ibu bikin apa?
Ibu: Baju.
(hening sejenak)
Ning: Ibu, apakah dunia ini?
Dunia ini adalah persepsi, Nak. Pandangan. Pandanglah dengan nurani yang lurus. Sehingga orang akan mendengar nurani itu dari apa yang kamu perbuat. Pemikiran tak mempunyai kebenaran atau kesalahan yang hakiki, tetapi nurani takkan menyalahi kebenaran atau membenarkan kesalahan. Nurani bicara sendiri.
Ning: Oke... (mengangguk) mmm... Bisa lebih sederhana lagi nggak?
Ibu: Ha ha ha... kamu pasti ngerti kok kalau sudah lebih besar.
Ning: Ibu sih... Pake bahasa tingkat tinggi.
Ning: Bu, aku takut jadi roang dewasa. Aku mau jadi anak-anak, terus sama ibu. Orang dewasa nggak boleh takut, soalnya, siapa yang nanti bilang sama anak-anaknya kalau gelap itu sebetulnya bumi lagi selimutan? Padahal aku masih takut, Bu... Dunia ini begitu besarnya.
Ibu: Ibu ngerti. Kamu tidak perlu takut, Ning... Jadi orang dewasa sama enaknya kok. (tersenyum)
Ning: Sama sulitnya, maksud Ibu.
Ibu: Iya.
Ning: Berarti gampang dong.
Ibu: Lha, gampang nggak jadi anak-anak?
Ning: Nggak terlalu sih...
(lampu fade out)
Minggu, 29 Mei 2016
"Where d'you wanna go?"
"Where d'you wanna go?"
Ouch! That question again. A million times she had asked me. I wondered why she wasn't bored. I lifted my head from a book I was reading and slowly turned at her.
"Make your decision! Now!" demanded my mother.
I sighed and shook my head. I hated this kind of dialogue and I didn't understand why I had to answer such a question. It would be better if she sent me to one and didn't ask me what I wanted.
"Well?"
"Er... What about SMA 10?" I said.
My mother frowned. "But there ain't a Language Department. You said you want to enter a Language Department."
I thought I knew what I would do. And it was decided. I am going to SMA 1... or, hopefully.
"What d'you actually wanna be?" asked my mother with a spacing-out voice.
"Er... What do I actually wanna be?" Many things to do. Being a doctor sounded cool but it wasn't really me. What about being a teacher? I'd think twice for this. But rather than that... "I want to be an illustrator for children's books," I said.
"Then you have to work hard," said my mother. "You want to enter a Language Department, but all Art Departments demand you to be from a Science Department."
"Yeah, I'm gonna work hard. What else can I do?"
My mother smiled.
*Tulisan ini dibuat tahun 2009, dengan tambahan catatatan dari Miss Tika, "You are great in writing". Thank you, Miss Tika.
Ouch! That question again. A million times she had asked me. I wondered why she wasn't bored. I lifted my head from a book I was reading and slowly turned at her.
"Make your decision! Now!" demanded my mother.
I sighed and shook my head. I hated this kind of dialogue and I didn't understand why I had to answer such a question. It would be better if she sent me to one and didn't ask me what I wanted.
"Well?"
"Er... What about SMA 10?" I said.
My mother frowned. "But there ain't a Language Department. You said you want to enter a Language Department."
I thought I knew what I would do. And it was decided. I am going to SMA 1... or, hopefully.
"What d'you actually wanna be?" asked my mother with a spacing-out voice.
"Er... What do I actually wanna be?" Many things to do. Being a doctor sounded cool but it wasn't really me. What about being a teacher? I'd think twice for this. But rather than that... "I want to be an illustrator for children's books," I said.
"Then you have to work hard," said my mother. "You want to enter a Language Department, but all Art Departments demand you to be from a Science Department."
"Yeah, I'm gonna work hard. What else can I do?"
My mother smiled.
*Tulisan ini dibuat tahun 2009, dengan tambahan catatatan dari Miss Tika, "You are great in writing". Thank you, Miss Tika.
Sabtu, 28 Mei 2016
Kebab Turki Baba Rafi
Harum roti dan daging yang manis seketika menyambut hidung. Bercak-bercak cokelat emas tanda panggangan membentuk pola acak pada kulit putih susu. Sayuran hijau menyembul dari ujung gulungan seperti rambut yang tumbuh dari telinga orang, memberi kesan cerah pada keseluruhan roti ajaib berbentuk gelondong itu. Bau dan penampilannya yang menggoda itu dibungkus kertas kaku warna kuning yang jadi ternoda minyak sana-sini.
Ujung yang renyah berbunyi "krek" ketika digigit, belum apa-apa sensasi khas margarin meluber di lidah, berlanjut dengan rasa manis yang menyebar ketika digigit lebih jauh. Agaknya wangi roti itu terasa di mulut. Setelah itu gurih mayones bercampur dengan manis kecut saus tomat, sungguh mereka betul-betul berteman. Saus tomat yang merah itu membuat mulut belepotan persis vampir habis mengisap darah, tetapi tak ada yang keberatan karena lembutnya daging segera dicecap lidah. Dari bau daging yang khas, orang akan langsung tahu bahwa itu daging kambing. Semua rasa bersatu, masih diramaikan lagi oleh bawang bombai yang renyah, segar, dan sedikit pedas. Kemudian ada sayuran yang tersembul tadi. Ternyata rasanya datar-datar saja, tetapi kalau dikunyah bunyinya asyik. Tidak salah dijadikan komposisi, selain karena menyehatkan.
Pendek kata, setelah semua tulisan di atas, tinggallah wadah kuning yang masih menyisakan bau wangi, bertuliskan "Kebab Turki Baba Rafi".
*Tulisan ini dibuat pada tahun 2011.
Ujung yang renyah berbunyi "krek" ketika digigit, belum apa-apa sensasi khas margarin meluber di lidah, berlanjut dengan rasa manis yang menyebar ketika digigit lebih jauh. Agaknya wangi roti itu terasa di mulut. Setelah itu gurih mayones bercampur dengan manis kecut saus tomat, sungguh mereka betul-betul berteman. Saus tomat yang merah itu membuat mulut belepotan persis vampir habis mengisap darah, tetapi tak ada yang keberatan karena lembutnya daging segera dicecap lidah. Dari bau daging yang khas, orang akan langsung tahu bahwa itu daging kambing. Semua rasa bersatu, masih diramaikan lagi oleh bawang bombai yang renyah, segar, dan sedikit pedas. Kemudian ada sayuran yang tersembul tadi. Ternyata rasanya datar-datar saja, tetapi kalau dikunyah bunyinya asyik. Tidak salah dijadikan komposisi, selain karena menyehatkan.
Pendek kata, setelah semua tulisan di atas, tinggallah wadah kuning yang masih menyisakan bau wangi, bertuliskan "Kebab Turki Baba Rafi".
*Tulisan ini dibuat pada tahun 2011.
Jumat, 27 Mei 2016
Meja
Sebuah meja tua, kalau kau tanya
tempat favoritku apa
Bukan laut dan debur ombak, bukan
Atau malah rangkaian pegunungan sana
Meja itu berbisik pada kita
agar pergi ke bawahnya
Dan di sana aku menemukan
banyak tempat kesayangan orang
Meja itu menantangku berlayar
Mengarungi sungai-sungai di benua
yang tak terbayangkan, bisa dibilang
Semua tergantung daya imaji kita
Alih-alih taplak meja yang dilahap usia, perlahan
aku menyibak helai kuntum-kuntum tirai dunia
Tak lagi Sabang ke Merauke, tidak
Melainkan dari Oradea sampai Birad
Memang bukan laut dan debur ombak
dan rangkaian pegunungan sana
Tetapi seluruh dunia, di bawah sebuah meja tua
Di sinilah aku menemukannya
*Puisi ini ditulis tahun 2008.
tempat favoritku apa
Bukan laut dan debur ombak, bukan
Atau malah rangkaian pegunungan sana
Meja itu berbisik pada kita
agar pergi ke bawahnya
Dan di sana aku menemukan
banyak tempat kesayangan orang
Meja itu menantangku berlayar
Mengarungi sungai-sungai di benua
yang tak terbayangkan, bisa dibilang
Semua tergantung daya imaji kita
Alih-alih taplak meja yang dilahap usia, perlahan
aku menyibak helai kuntum-kuntum tirai dunia
Tak lagi Sabang ke Merauke, tidak
Melainkan dari Oradea sampai Birad
Memang bukan laut dan debur ombak
dan rangkaian pegunungan sana
Tetapi seluruh dunia, di bawah sebuah meja tua
Di sinilah aku menemukannya
*Puisi ini ditulis tahun 2008.
Kamis, 28 Mei 2015
Institut Hati yang Terluka
Beberapa waktu yang lalu, saya bergabung dengan sekelompok mahasiswa di media sosial yang nanti akan bersama-sama ke Magelang untuk mengurus suatu acara. Bertemu saja belum pernah, tapi hidup saya tidak dibiarkan tenang. Selalu ada bahan untuk dibicarakan dan ditertawakan. Mulai dari mencerdaskan, sampai kurang mencerdaskan. Dan tadi malam adalah bahan yang kurang mencerdaskan, tapi menguras perut. Perkaranya ada yang mulai membahas baper.
Sarah: Jangan sebut-sebut nama mantan, alumni he he he.
Teddy: Alumni hati ya, ha ha.
David: (((Alumni hati)))
Gian: David pingin wisuda hati?
David: Udah wisuda.
Teddy: Institut Hati yang Terluka.
Ken: Dihadiri barisan para mantan.
Nabila: *tisu*
Ken: Mata kuliah di IHT, Telaah Pranata Masyarakat Lajang I, 3 SKS.
Gian: Emang udah dapet acc dosbing?
Ken: Belum, soalnya complicated tidak termasuk 'lajang'.
Teddy: Kalau berpasangan maka akan di-DO paksa oleh pihak rektorat.
Nabila: *garuk tembok*
Teddy: Dasar Menggaruk Tembok, 2 SKS.
Ken: Statistik Detak Jantung dan Denyut Nadi Dekat Mantan, 2 SKS, wajib lulus.
Teddy: Manajemen Detak Jantung dan Denyut Nadi Dekat Mantan, 3 SKS. Mata kuliah prasyarat: SDJDNDM.
Saat wisuda akbar akan diputar slideshow foto bersama mantan.
Nabila: Sabotase wisuda.
Teddy: Pegangan yang kuat.
Ken: Himne wisuda, Wrecking Ball.
Teddy: The One That Got Away jadi mars kampus.
Nabila: Skyscraper. Man on Wire.
David: The Man Who Can't Be Moved.
Nabila: Human. Jar of Hearts. You Ruin Me.
Teddy: Habis slideshow ada bonfire raksasa. Yang dibakar, kado mantan, tiket nonton berdua.
Nabila: Nota-nota makan bareng.
Teddy: Bungkus cokelat sisa Valentine.
Nabila: Bunga-bunga yang sudah menghitam.
Teddy: Kartu ucapan first anniversary, second anniversary... dan third anniversary yang tak sempat dikasih.
Nabila: Chip nomer baru yang sengaja dibeli biar satu operator.
Ken: "Saudara Teddy dipersilakan naik ke atas panggung." ... Hening. Lalu, BADUMMM~ "I can be like a wreeecking baaall..."
Teddy: *sambil ayun-ayun di atas auditorium*
David: Kalo gak kuat kelulusan dibatalkan ya.
Ken: Bukan, bukan tak kuat. Tapi tak kuasa.
Teddy: Kepada wisudawan terbaik dipersilakan untuk menyalakan api unggun.
Ken: Untuk secara literal menyulutkan cinta yang membara dan tak terpadamkan.
Teddy: Karena bagaimanapun juga dia yang pernah mengisi hati yang sepi ini. Walau kemudian hanya untuk pergi.
Wahyu: *imagining this conversation into a drama series* Ratingnya bisa 9.6 nih... Nyaingin Game of Throne.
Teddy:
Sarah: Jangan sebut-sebut nama mantan, alumni he he he.
Teddy: Alumni hati ya, ha ha.
David: (((Alumni hati)))
Gian: David pingin wisuda hati?
David: Udah wisuda.
Teddy: Institut Hati yang Terluka.
Ken: Dihadiri barisan para mantan.
Nabila: *tisu*
Ken: Mata kuliah di IHT, Telaah Pranata Masyarakat Lajang I, 3 SKS.
Gian: Emang udah dapet acc dosbing?
Ken: Belum, soalnya complicated tidak termasuk 'lajang'.
Teddy: Kalau berpasangan maka akan di-DO paksa oleh pihak rektorat.
Nabila: *garuk tembok*
Teddy: Dasar Menggaruk Tembok, 2 SKS.
Ken: Statistik Detak Jantung dan Denyut Nadi Dekat Mantan, 2 SKS, wajib lulus.
Teddy: Manajemen Detak Jantung dan Denyut Nadi Dekat Mantan, 3 SKS. Mata kuliah prasyarat: SDJDNDM.
Saat wisuda akbar akan diputar slideshow foto bersama mantan.
Nabila: Sabotase wisuda.
Teddy: Pegangan yang kuat.
Ken: Himne wisuda, Wrecking Ball.
Teddy: The One That Got Away jadi mars kampus.
Nabila: Skyscraper. Man on Wire.
David: The Man Who Can't Be Moved.
Nabila: Human. Jar of Hearts. You Ruin Me.
Teddy: Habis slideshow ada bonfire raksasa. Yang dibakar, kado mantan, tiket nonton berdua.
Nabila: Nota-nota makan bareng.
Teddy: Bungkus cokelat sisa Valentine.
Nabila: Bunga-bunga yang sudah menghitam.
Teddy: Kartu ucapan first anniversary, second anniversary... dan third anniversary yang tak sempat dikasih.
Nabila: Chip nomer baru yang sengaja dibeli biar satu operator.
Ken: "Saudara Teddy dipersilakan naik ke atas panggung." ... Hening. Lalu, BADUMMM~ "I can be like a wreeecking baaall..."
Teddy: *sambil ayun-ayun di atas auditorium*
David: Kalo gak kuat kelulusan dibatalkan ya.
Ken: Bukan, bukan tak kuat. Tapi tak kuasa.
Teddy: Kepada wisudawan terbaik dipersilakan untuk menyalakan api unggun.
Ken: Untuk secara literal menyulutkan cinta yang membara dan tak terpadamkan.
Teddy: Karena bagaimanapun juga dia yang pernah mengisi hati yang sepi ini. Walau kemudian hanya untuk pergi.
Wahyu: *imagining this conversation into a drama series* Ratingnya bisa 9.6 nih... Nyaingin Game of Throne.
Teddy:
COMING SOON THIS SUMMER ON NETFLIX!
Sabtu, 09 Mei 2015
Why You Are Happy
They say, you know you want to be with someone, when you keep wanting to tell him, why you are happy, why you are sad, why you are confused. I want to tell him.
But I don't.
But I don't.
Rabu, 15 April 2015
Mendingan: Analisis Non-Empirik Melibatkan Kata "Statistik" Mengenai Komparasi, untuk Golda
Untuk Golda.
Kenapa untuk Golda? Karena Golda nagih tulisan terbaru saya dan menuntut saya untuk jadi produktif.
Saya pernah baca cuplikan kata-kata seseorang.
"Kamu tidak akan pernah bisa menenangkan seorang anak yang merajuk dengan mengatakan, lihatlah, banyak orang kelaparan di negara bla karena dua hal itu tidak sama."
Tidak! ada yang langsung menolak mentah-mentah quote ini. Karena, kan, kita mesti selalu melihat ke bawah untuk bisa bersyukur.
Tetapi, seperti biasa menolak untuk berafiliasi (walaupun dengan begitu sendirinya saya juga masuk golongan non-golongan), saya memilih untuk mengiyakan dan menidakkan. Mengiyakan? Kan, kalau bisa diambil positifnya, mengapa tidak.
Hari ini saya baca bagaimana orang-orang berantem, adu komentar di Facebook mengenai JILBOOBS. Jilboobs yang itu? Iya, yang menggabungkan kata jilbab dengan boobs itu. Dan yang saya baru tahu, ternyata boobs berasal dari kata boobies yang digunakan untuk memaki, "Bodoh!" Makanya istilah jilboobs ini menyinggung si penulis, yang mengatakan, istilah itu merendahkan harkat wanita.
"Haruskah kita menilai pribadi utuh hanya dari gambar berdimensi dua, tidak utuh dan hanya sebagai potongan?" Kira-kira begitu. Diamini pula oleh beberapa komentator: lebih baik, daripada tidak sama sekali.
Tetapi ada juga yang menyambar. Katanya, mendingan gak usah jilbaban sekalian, kalau masih pamer-pamer dada.
Mendingan.
Mendingan.
Mendingan.
Yaelah jon. Hari gini juga. Gol, kamu lihat benang merahnya kan, yang kiwir-kiwir itu? Mereka bermain-main di ranah komparasi, jadi kadang mereka gagal melihat seseorang sebagai pribadi yang utuh. Saya seringkali pula menghindari komparasi, karena apapun sama-sama harus dioptimalkan.
Tetapi kalau kita hari ini masih membanding-bandingkan, tidak apa-apa. Kita selalu perlu statistik supaya empirik.
Kenapa untuk Golda? Karena Golda nagih tulisan terbaru saya dan menuntut saya untuk jadi produktif.
Saya pernah baca cuplikan kata-kata seseorang.
"Kamu tidak akan pernah bisa menenangkan seorang anak yang merajuk dengan mengatakan, lihatlah, banyak orang kelaparan di negara bla karena dua hal itu tidak sama."
Tidak! ada yang langsung menolak mentah-mentah quote ini. Karena, kan, kita mesti selalu melihat ke bawah untuk bisa bersyukur.
Tetapi, seperti biasa menolak untuk berafiliasi (walaupun dengan begitu sendirinya saya juga masuk golongan non-golongan), saya memilih untuk mengiyakan dan menidakkan. Mengiyakan? Kan, kalau bisa diambil positifnya, mengapa tidak.
Hari ini saya baca bagaimana orang-orang berantem, adu komentar di Facebook mengenai JILBOOBS. Jilboobs yang itu? Iya, yang menggabungkan kata jilbab dengan boobs itu. Dan yang saya baru tahu, ternyata boobs berasal dari kata boobies yang digunakan untuk memaki, "Bodoh!" Makanya istilah jilboobs ini menyinggung si penulis, yang mengatakan, istilah itu merendahkan harkat wanita.
"Haruskah kita menilai pribadi utuh hanya dari gambar berdimensi dua, tidak utuh dan hanya sebagai potongan?" Kira-kira begitu. Diamini pula oleh beberapa komentator: lebih baik, daripada tidak sama sekali.
Tetapi ada juga yang menyambar. Katanya, mendingan gak usah jilbaban sekalian, kalau masih pamer-pamer dada.
Mendingan.
Mendingan.
Mendingan.
Yaelah jon. Hari gini juga. Gol, kamu lihat benang merahnya kan, yang kiwir-kiwir itu? Mereka bermain-main di ranah komparasi, jadi kadang mereka gagal melihat seseorang sebagai pribadi yang utuh. Saya seringkali pula menghindari komparasi, karena apapun sama-sama harus dioptimalkan.
Tetapi kalau kita hari ini masih membanding-bandingkan, tidak apa-apa. Kita selalu perlu statistik supaya empirik.
Selasa, 09 Desember 2014
Jawaban Saya Sudah Bener Belum, Bu?
"Apa yang akan terjadi kalau dia gak tahu di mana Indonesia itu?"
Saya berulang kali melempar tangan ke udara. Menganggapnya remedial tetapi serius. Bukan seperti fisika yang makin diremidi malah makin merosot. Saya mengejar kepuasan mendengar kata 'benar' dari si penanya. Setiap putaran saya pikirkan benar-benar. Bagaikan berjudi, I just had to hit the jackpot. Kalau belum bener, ya, coba lagi, coba lagi sampai bener.
Pertanyaannya sederhana. Ada seorang guru berkewarganegaraan asing di tempatmu yang tidak tahu Indonesia itu di mana. Dia berpikir Indonesia pastilah di suatu tempat sebelah Bali.
Anda bisa mengoreksinya.
Atau Anda bisa memilih diam saja, memelintir ujung-ujung rambutmu yang keriwil dan memelototi langit-langit.
Mana saja, apa yang akan terjadi kalau dia tidak tahu di mana Indonesia itu?
"Kita tidak mengejar kebenaran," si penanya mengingatkan, barangkali mendeteksi kegemasan pada kernyitan dahi saya. Inilah filsuf yang sejati, yang lebih memihak proses ketimbang produk. Gambaran mengenai makna filsafat yang saya dapatkan di kelas Filsafat Ilmu terlalu sederhana, karena isinya hanya tentang mengejar kebenaran saking cintanya.
Meskipun sudah diingatkan, saya tetap memburu dengan bernafsu. Jangan mengambinghitamkan sistem pendidikan di Indonesia dulu. Anda pun akan kesal kalau diberi ending menggantung, kan? Hayo. Ambil contoh satu film. You didn't get to see the pair together, even though they were perfect in the film. Rasanya ingin mengirimi surat si penulis naskah. Kalau bisa guncang-guncang bahunya sampai dia jawab, mengapa Anda tidak melihat si cowok menikahi si cewek sampai rambutnya memutih dan bercucu dua belas orang.
Duduk dua belas jam di dalam kereta membuat orang gelisah, meskipun ada banyak pemandangan yang bisa dilihat.
Ini juga yang membuat saya tidak bisa menikmati film Tekkon Kinkreet. Seandainya Anda orang yang hobi mengintip halaman terakhir bahkan sebelum membaca judul bab pertama, Tekkon Kinkreet tidak akan jadi buku yang menyediakan kepuasan untuk itu.
And if you answer something correctly (or guess), you get a reward. Entah itu bintang emas di papan kelas atau ciuman dari jauh. Ihi.
"Akan jadi seperti apa kacamata pandangmu setelah kamu pulang dari acara ini? Berbedakah dengan kacamatamu sebelumnya?"
"Bagaimana kamu akan menggambar perasaanmu di atas kertas ini?"
Semuanya tidak mempunyai jawaban yang benar dan si penanya tidak mau mengatakan jawaban saya benar, bahkan yang mendekati seperti 'tepat' pun tidak. Memuji pun tidak. Tidak ada kesan bagi orang lain bahwa jawaban mereka salah. Semuanya pertanyaan untuk mengenali diri sendiri, yang kadang Anda takuti dan tidak bisa nilai dengan baik.
Belajar sih belajar. Nanti kalau direkrut jadi pendidik bangsa, saya akan melesat mendekati anak yang bolak-balik bertanya, "Jawaban saya sudah bener belum, Bu?" dan membisikkan mantra nan sakti, "Kita tidak mengejar kebenaran. Ingat!" Nanti jika sudah besar, dia akan tahu nilai sesuatu dan bukan cuma harganya.
Tetapi masalahnya sampai hari ini saya tidak punya jawaban.
Mungkin Anda punya? Jangan kesal kalau saya lantas menghadiahi Anda dengan kernyitan gemas di dahi, lalu lari ke penjawab lain untuk mendapatkan ketidakpuasan yang sama...
Saya berulang kali melempar tangan ke udara. Menganggapnya remedial tetapi serius. Bukan seperti fisika yang makin diremidi malah makin merosot. Saya mengejar kepuasan mendengar kata 'benar' dari si penanya. Setiap putaran saya pikirkan benar-benar. Bagaikan berjudi, I just had to hit the jackpot. Kalau belum bener, ya, coba lagi, coba lagi sampai bener.
Pertanyaannya sederhana. Ada seorang guru berkewarganegaraan asing di tempatmu yang tidak tahu Indonesia itu di mana. Dia berpikir Indonesia pastilah di suatu tempat sebelah Bali.
Anda bisa mengoreksinya.
Atau Anda bisa memilih diam saja, memelintir ujung-ujung rambutmu yang keriwil dan memelototi langit-langit.
Mana saja, apa yang akan terjadi kalau dia tidak tahu di mana Indonesia itu?
"Kita tidak mengejar kebenaran," si penanya mengingatkan, barangkali mendeteksi kegemasan pada kernyitan dahi saya. Inilah filsuf yang sejati, yang lebih memihak proses ketimbang produk. Gambaran mengenai makna filsafat yang saya dapatkan di kelas Filsafat Ilmu terlalu sederhana, karena isinya hanya tentang mengejar kebenaran saking cintanya.
Meskipun sudah diingatkan, saya tetap memburu dengan bernafsu. Jangan mengambinghitamkan sistem pendidikan di Indonesia dulu. Anda pun akan kesal kalau diberi ending menggantung, kan? Hayo. Ambil contoh satu film. You didn't get to see the pair together, even though they were perfect in the film. Rasanya ingin mengirimi surat si penulis naskah. Kalau bisa guncang-guncang bahunya sampai dia jawab, mengapa Anda tidak melihat si cowok menikahi si cewek sampai rambutnya memutih dan bercucu dua belas orang.
Duduk dua belas jam di dalam kereta membuat orang gelisah, meskipun ada banyak pemandangan yang bisa dilihat.
Ini juga yang membuat saya tidak bisa menikmati film Tekkon Kinkreet. Seandainya Anda orang yang hobi mengintip halaman terakhir bahkan sebelum membaca judul bab pertama, Tekkon Kinkreet tidak akan jadi buku yang menyediakan kepuasan untuk itu.
And if you answer something correctly (or guess), you get a reward. Entah itu bintang emas di papan kelas atau ciuman dari jauh. Ihi.
"Akan jadi seperti apa kacamata pandangmu setelah kamu pulang dari acara ini? Berbedakah dengan kacamatamu sebelumnya?"
"Bagaimana kamu akan menggambar perasaanmu di atas kertas ini?"
Semuanya tidak mempunyai jawaban yang benar dan si penanya tidak mau mengatakan jawaban saya benar, bahkan yang mendekati seperti 'tepat' pun tidak. Memuji pun tidak. Tidak ada kesan bagi orang lain bahwa jawaban mereka salah. Semuanya pertanyaan untuk mengenali diri sendiri, yang kadang Anda takuti dan tidak bisa nilai dengan baik.
Belajar sih belajar. Nanti kalau direkrut jadi pendidik bangsa, saya akan melesat mendekati anak yang bolak-balik bertanya, "Jawaban saya sudah bener belum, Bu?" dan membisikkan mantra nan sakti, "Kita tidak mengejar kebenaran. Ingat!" Nanti jika sudah besar, dia akan tahu nilai sesuatu dan bukan cuma harganya.
Tetapi masalahnya sampai hari ini saya tidak punya jawaban.
Mungkin Anda punya? Jangan kesal kalau saya lantas menghadiahi Anda dengan kernyitan gemas di dahi, lalu lari ke penjawab lain untuk mendapatkan ketidakpuasan yang sama...
Bawang Bombai
Manusia itu sebutir bawang bombai. Sebelum ada yang marah-marah karena otak, jantung, dan paru-parunya diibaratkan segampang bola umbi kehijauan, saya mau mengoceh. Sebutir bawang bombai sebenarnya cuma, ya, tengahnya (yang bentuknya gimana masih misteri untuk saya karena terlanjur dipotong-potong) disembunyikan berlapis-lapis, berselubung-selubung tetek-bengek, kadang-kadang membuat mata perih atau sekadar menguarkan bau khas yang membuat perut berkeruyukan. Kecuali Anda alergi bawang bombai, bagian terluar bawang bombai adalah pembelaan atas diri sendiri, atas bagian paling tengah yang terlalu rapuh atau, entahlah, malu-malu dan lebih memilih langsung berakhir dalam sup, tanpa Anda perlu tahu apa sebenarnya yang sedang Anda makan.
Kalau sampai dia tahu, saya akan mengelupas wajah saya!
Mau ditaruh mana wajah saya?
Taruh di punggung?
Persis bagian terluar bawang bombai, pembelaan rasanya manis samar-samar. Membuat saya menolak mengajukan pertanyaan wajib, "Saya? Egois?" dan bahkan sudah sedia jawabannya sebelumnya, "Ah, egois itu sekali-sekali perlu kok buat kesehatan jiwa."
Administrasi jiwa, ya ampun, ternyata repot sekali. Tidak usah dipilah-pilah dan mari anut YOLO.
Kalau sampai dia tahu, saya akan mengelupas wajah saya!
Mau ditaruh mana wajah saya?
Taruh di punggung?
Persis bagian terluar bawang bombai, pembelaan rasanya manis samar-samar. Membuat saya menolak mengajukan pertanyaan wajib, "Saya? Egois?" dan bahkan sudah sedia jawabannya sebelumnya, "Ah, egois itu sekali-sekali perlu kok buat kesehatan jiwa."
Administrasi jiwa, ya ampun, ternyata repot sekali. Tidak usah dipilah-pilah dan mari anut YOLO.
Kamis, 02 Oktober 2014
Hadiah Ulang Tahun
Menulis status panjang-panjang di Facebook adalah bentuk kemalasan saya me-logout akun Google yang biasanya ter-signed in sebagai kakak saya dan menunggu loading setting Blogger yang lama. Tapi menulis ini, saya tidak mau membuat teman-teman saya, yang notabene bertebaran di Facebook, merasa sedih. Saya hanya ingin menulis.
Di sini, sedikit untuk kamu.
Profil-profil followers Twitter membanjiri layar saya. Saya berhenti di deretan profilmu. Ada kata-kata FOLLOWS YOU tertera di situ. Kamu tidak akan pernah membaca timeline saya lagi, tapi kamu tidak punya kemampuan untuk unfollow saya, adalah hal pertama yang terpikirkan oleh saya.
Kemarin di kelas B2-Niveau kami membicarakan perayaan-perayaan di Indonesia, termasuk ulang tahun. Pertanyaan sang dosen, "Hadiah terburuk apa yang pernah kamu terima di ulang tahunmu?"
Sehari sebelum ulang tahun saya, kamu dipanggil Tuhan.
Saya bukan orang yang gampang mengumpulkan air mata di pelupuk lantas menangis. I'm not paying tribute with tears. Teman-teman kamu, yang juga teman-teman saya, bilang mereka sudah menangis tadi pagi. Saya tidak. Saya hanya tidak percaya. Sampai hari ini pun, masih aneh rasanya memikirkan kamu sudah naik ke surga. Buat saya, kamu harusnya selalu di bumi, baik-baik saja walaupun kabarmu tidak ditanyakan. Seharusnya tidak perlu ditanyakan, karena kamu akan selalu sehat-sehat saja seperti teman-teman yang lain.
Tapi sekuat apapun waktu itu saya berdoa, paginya, alih-alih ucapan selamat,
...
Yah, Tuhan memang sayang kamu. Facebook kamu kebanjiran kata-kata duka. Tuhan membaca semuanya, Dan, Tuhan membaca post-post itu satu demi satu, kalimat demi kalimat, kata demi kata.
Ya ampun, apa ini air di pipi saya?
Tidak adil ya, teman-teman kita mendapat kesempatan bertemu kamu kedua bahkan ketiga kalinya, saya tidak. Waktu kita semua berpisah, kamu bilang,
"Gila, aku nangis, wak."
Wak itu panggilan sayang untuk teman. Kamu memberikan saya hadiah yang masih saya ingat sampai sekarang, dan hadiah itu berupa keyakinan dari kamu, bahwa apa yang kita miliki, pertemanan kita, persahabatan kita, berharga.
Tuhan sayang kamu, Dan, Tuhan sayang kamu. Doakan teman-temanmu yang masih berjuang di bumi ini. Einblick, fuer immer!
Di sini, sedikit untuk kamu.
Profil-profil followers Twitter membanjiri layar saya. Saya berhenti di deretan profilmu. Ada kata-kata FOLLOWS YOU tertera di situ. Kamu tidak akan pernah membaca timeline saya lagi, tapi kamu tidak punya kemampuan untuk unfollow saya, adalah hal pertama yang terpikirkan oleh saya.
Kemarin di kelas B2-Niveau kami membicarakan perayaan-perayaan di Indonesia, termasuk ulang tahun. Pertanyaan sang dosen, "Hadiah terburuk apa yang pernah kamu terima di ulang tahunmu?"
Sehari sebelum ulang tahun saya, kamu dipanggil Tuhan.
Saya bukan orang yang gampang mengumpulkan air mata di pelupuk lantas menangis. I'm not paying tribute with tears. Teman-teman kamu, yang juga teman-teman saya, bilang mereka sudah menangis tadi pagi. Saya tidak. Saya hanya tidak percaya. Sampai hari ini pun, masih aneh rasanya memikirkan kamu sudah naik ke surga. Buat saya, kamu harusnya selalu di bumi, baik-baik saja walaupun kabarmu tidak ditanyakan. Seharusnya tidak perlu ditanyakan, karena kamu akan selalu sehat-sehat saja seperti teman-teman yang lain.
Tapi sekuat apapun waktu itu saya berdoa, paginya, alih-alih ucapan selamat,
...
Yah, Tuhan memang sayang kamu. Facebook kamu kebanjiran kata-kata duka. Tuhan membaca semuanya, Dan, Tuhan membaca post-post itu satu demi satu, kalimat demi kalimat, kata demi kata.
Ya ampun, apa ini air di pipi saya?
Tidak adil ya, teman-teman kita mendapat kesempatan bertemu kamu kedua bahkan ketiga kalinya, saya tidak. Waktu kita semua berpisah, kamu bilang,
"Gila, aku nangis, wak."
Wak itu panggilan sayang untuk teman. Kamu memberikan saya hadiah yang masih saya ingat sampai sekarang, dan hadiah itu berupa keyakinan dari kamu, bahwa apa yang kita miliki, pertemanan kita, persahabatan kita, berharga.
Tuhan sayang kamu, Dan, Tuhan sayang kamu. Doakan teman-temanmu yang masih berjuang di bumi ini. Einblick, fuer immer!
Kamis, 11 September 2014
Fake
Tanggal 5 kemarin, ada inaugurasi di kampus untuk fakultas saya. Saya jadi konseptor pertunjukan bagian jurusan saya, sekaligus ngarang naskah. Ada punchline yang sangat saya tonjolkan dengan pengulangan, dan bisa dikatakan saya membangun naskah di atas punchline itu.
"Merdekalah dia yang bisa bersastra."
Berkisah tentang putri yang terkurung sangkar emas alias dipingit, namun memerdekakan hatinya dengan puisi dan nyanyian solo, dan pangeran yang fisiknya terbebas dari pingitan namun mulutnya terkatup tak bisa mengungkap diri.
Yaiks. Tentu saja, walaupun anak sastra, dan ingin menonjolkan rasa sastra, saya tergeli-geli sendiri dengan punchline itu.
Soalnya sastra memang bukan substansi kemerdekaan.
Mau berapa kalipun saya ngetweet kalimat-kalimat galau nan indah dalam sehari, besoknya saya akan mengulanginya lagi. Ngetweet kalimat-kalimat galau nan indah. Begitu terus, sampai saya berhasil menerapkan quote favorit saya,
"Di mana ada cinta, di situ tidak ada permintaan, pengharapan, dan ketergantungan. Saya tidak meminta orang membuat saya bahagia, kebahagiaan saya ada dalam diri saya. Jika seseorang meninggalkan saya, saya tidak akan menyesali diri. Saya sangat senang berada dekat orang itu, tapi saya tidak terikat dengannya." - Anthony de Mello.
Saya berusaha mengingat-ingat, ini adalah low point saya. Iya, kalau saya melihat tanjakan dan menangis, berikutnya saya pasti akan tertawa kegirangan lantaran disambut turunan. Sehabis low point bakal selalu ada high point.
Badai pasti berlalu.
Tapi memang selalu lebih susah ikhlas "selama" dan "pasca" ketimbang ikhlas pra-kejadian. Uang yang sudah ditargetkan akan hilang (ditargetkan, ya ampun) pasti tidak akan dicari. Di low point saya, di depan tanjakan, saya susah mencari makna. Segalanya terdengar sumbang dan berantakan. Sumpek.
Anyway, saya sekarang sudah di lingkaran merdeka itu. Meskipun saya melewati treknya dengan mata terpejam, saya kembali bisa bernapas. Setidaknya untuk detik ini, dan saya mau bilang,
Senyum kalian membuat saya tersenyum kecil sendiri, saya bisa bernapas lega, saya merindukan kehadiran di sebelah saya, saya merindukan kekosongan di sebelah saya, saya merindukan kehidupan, saya ingin membaiki diri bukan karena kamu.
Merdeka!
"Merdekalah dia yang bisa bersastra."
Berkisah tentang putri yang terkurung sangkar emas alias dipingit, namun memerdekakan hatinya dengan puisi dan nyanyian solo, dan pangeran yang fisiknya terbebas dari pingitan namun mulutnya terkatup tak bisa mengungkap diri.
Yaiks. Tentu saja, walaupun anak sastra, dan ingin menonjolkan rasa sastra, saya tergeli-geli sendiri dengan punchline itu.
Soalnya sastra memang bukan substansi kemerdekaan.
Mau berapa kalipun saya ngetweet kalimat-kalimat galau nan indah dalam sehari, besoknya saya akan mengulanginya lagi. Ngetweet kalimat-kalimat galau nan indah. Begitu terus, sampai saya berhasil menerapkan quote favorit saya,
"Di mana ada cinta, di situ tidak ada permintaan, pengharapan, dan ketergantungan. Saya tidak meminta orang membuat saya bahagia, kebahagiaan saya ada dalam diri saya. Jika seseorang meninggalkan saya, saya tidak akan menyesali diri. Saya sangat senang berada dekat orang itu, tapi saya tidak terikat dengannya." - Anthony de Mello.
Saya berusaha mengingat-ingat, ini adalah low point saya. Iya, kalau saya melihat tanjakan dan menangis, berikutnya saya pasti akan tertawa kegirangan lantaran disambut turunan. Sehabis low point bakal selalu ada high point.
Badai pasti berlalu.
Tapi memang selalu lebih susah ikhlas "selama" dan "pasca" ketimbang ikhlas pra-kejadian. Uang yang sudah ditargetkan akan hilang (ditargetkan, ya ampun) pasti tidak akan dicari. Di low point saya, di depan tanjakan, saya susah mencari makna. Segalanya terdengar sumbang dan berantakan. Sumpek.
Anyway, saya sekarang sudah di lingkaran merdeka itu. Meskipun saya melewati treknya dengan mata terpejam, saya kembali bisa bernapas. Setidaknya untuk detik ini, dan saya mau bilang,
Senyum kalian membuat saya tersenyum kecil sendiri, saya bisa bernapas lega, saya merindukan kehadiran di sebelah saya, saya merindukan kekosongan di sebelah saya, saya merindukan kehidupan, saya ingin membaiki diri bukan karena kamu.
Merdeka!
Senin, 11 Agustus 2014
Herzlich Wilkommen
Sebetulnya waktu admin SasjerUM ngetweet "herzlich wilkommen!" untuk adik-adik maba, itu ngingetin saya sama seruan "Wilkommen!" dari elite Der Fuhrer lawas kepada murid-murid baru, di film Napola. Medeni. -_-
Rabu, 28 Mei 2014
Lumban
"Kamu saya kasih hadiah 50 juta kalau bisa tebak kepanjangan T dari nama Papa T. Bob."
Pernah dengar lelucon itu? Hahaha itu salah satu yang lucu yang pernah saya dengar. Hadiah 50 juta itu nggak ada yang pernah nerima karena cuma ada 3 orang yang tahu jawabannya: Papa T. Bob sendiri, istrinya, dan Tuhan. Tapi lelucon itu terus berlanjut di kelas saya sampai timbul pertanyaan... TIMBUL PERTANYAAN.
"Kamu saya kasih hadiah 50 juta, tapi apa kepanjangan L dari nama Jeff L. Gaol?"
Jeff adalah seorang teman di sekolah, pinter ngedit film dan sembarangnya. Tapi huruf L. itu selalu menjadi misteri seperti di mana sebetulnya Nyi Roro Kidul tinggal.
Lalu saya bertemu seorang cewek dalam sebuah workshop. Namanya Vermona L. Gaol.
Vermona.
L.
Gaol.
Apa itu L? Di media sosial dia memajang nama lengkapnya, Vermona Lumban Gaol.
Maka ketika pertanyaan dan tawaran hadiah 50 juta itu datang lagi, saya jawab dengan yakin,
"Lumban!"
Tidak ada yang percaya. Mereka pikir saya mengada-ada -_-
Saya pikir, saya harus ketemu Jeff untuk membuktikan saya benar! Tapi kesempatan itu tidak kunjung datang. Sampai suatu hari kami, saya dan teman-teman, sedang duduk-duduk dan Jeff lewat depan kursi saya. Saya sambar lengan baju Jeff dan saya keluarkan kartu As itu.
"Jeff, apa kepanjangan L dari namamu?"
"LUMBAN."
Lumban. Lumban. Lumban.
Saya langsung terpingkal-pingkal penuh kemenangan ditatap teman-teman yang melongo.
Tuh kan. Saya kok dilawan.
Pernah dengar lelucon itu? Hahaha itu salah satu yang lucu yang pernah saya dengar. Hadiah 50 juta itu nggak ada yang pernah nerima karena cuma ada 3 orang yang tahu jawabannya: Papa T. Bob sendiri, istrinya, dan Tuhan. Tapi lelucon itu terus berlanjut di kelas saya sampai timbul pertanyaan... TIMBUL PERTANYAAN.
"Kamu saya kasih hadiah 50 juta, tapi apa kepanjangan L dari nama Jeff L. Gaol?"
Jeff adalah seorang teman di sekolah, pinter ngedit film dan sembarangnya. Tapi huruf L. itu selalu menjadi misteri seperti di mana sebetulnya Nyi Roro Kidul tinggal.
Lalu saya bertemu seorang cewek dalam sebuah workshop. Namanya Vermona L. Gaol.
Vermona.
L.
Gaol.
Apa itu L? Di media sosial dia memajang nama lengkapnya, Vermona Lumban Gaol.
Maka ketika pertanyaan dan tawaran hadiah 50 juta itu datang lagi, saya jawab dengan yakin,
"Lumban!"
Tidak ada yang percaya. Mereka pikir saya mengada-ada -_-
Saya pikir, saya harus ketemu Jeff untuk membuktikan saya benar! Tapi kesempatan itu tidak kunjung datang. Sampai suatu hari kami, saya dan teman-teman, sedang duduk-duduk dan Jeff lewat depan kursi saya. Saya sambar lengan baju Jeff dan saya keluarkan kartu As itu.
"Jeff, apa kepanjangan L dari namamu?"
"LUMBAN."
Lumban. Lumban. Lumban.
Saya langsung terpingkal-pingkal penuh kemenangan ditatap teman-teman yang melongo.
Tuh kan. Saya kok dilawan.
Kamis, 22 Mei 2014
50's
Saya berhasil meniru Audrey Hepburn :) :) :)
Rambut yang identik dengan the 50's adalah blondie, tapi rambut Hepburn ini... Bagaimana mendeskripsikannya?
Yang bikin paling mirip dengan foto aslinya adalah alisnya :) dia punya alis signifikan. Ternyata itu yang bikin beda dengan bintang-bintang lainnya.
Pipi dimerahkan, cat eyes, lipstik merah, semuanya dari era 50-an.
Sebenarnya LBD dari Givenchy yang dipakai Hepburn di Breakfast at Tiffany's lebih panjang, dan saya tidak nemu pipa panjang yang legendaris itu ._.
Fifties looks lain. Yang pakai baju biru punya tahi lalat di bawah mata kirinya. Tahi lalat! Tentu saja! Bukan 50's namanya kalau tidak tergila-gila dengan beauty marks.
Playlist: Klasik
1. Where the Bee Sucks, Elizabeth Schwarzkopf
http://www.youtube.com/watch?v=aBtwGO97lNg&safe=active
Dari semua versi, Elizabeth Schwarzkopf memang paling jos dan saya nggak nemu tandingannya. Aria ini berbau ceria dan jadi lagu pas untuk mengembalikan mood baik :') kalau denger lagu ini saya membayangkan Thumbelina, peri bunga sebesar jempol.
2. Adele's Laughing Song
http://www.youtube.com/watch?v=P2lkXzmcMHg&safe=active
Lagu ini berulang dinyanyikan orang, tapi tetap versi aslinya yang paling penuh tekhnik. Lebih lagi, dia menjiwai betul sehingga terdengar sungguhan kayak orang ketawa yang menyanyi. Kenapa Adele ketawa? Kalau dilihat dari liriknya, Adele adalah cewek berdarah biru yang menyamar jadi pembantu dan majikannya meremehkannya. Tentu saja Adele ketawa, karena tahu siapa dia sebenarnya.
3. Das Tafellied, Brahms
http://www.youtube.com/watch?v=nypGo3d9tU8&safe=active
Lagu ini juga lucu banget. Dengar pembukaannya saja sudah bisa bikin ketawa. Ceritanya tentang para pria yang merayu para wanita di sebuah perjamuan, dan kata para wanita itu dalam hati, "Memangnya kalian pikir kami tidak tahu kalian merayu wanita-wanita lain juga?" Lucunya para wanita itu tetap berpura-pura sopan dan membalas salam mereka, sampai akhirnya mereka disatukan dansa di bangsal besar.
4. Der Tanz, Schubert
http://www.youtube.com/watch?v=zj8zQ2gEN2o&safe=active
Uah, kekayaan yang berlebihan memang bikin merinding. Tapi siapa yang bisa menolak berdansa di ruang dansa megah di bawah kandelir bertahtakan seribu lilin?
5. Flower Duet
http://www.youtube.com/watch?v=Vf42IP__ipw&safe=active
Lagu ini aromanya lebih sedih, tapi Reff-nya enak sekali.
6. Bonjour, et puis, quelles nouvelles?
http://www.youtube.com/watch?v=lRAhUbLKgo0&list=PL8E63652FB0D403FA&safe=active
Kalau dinyanyikan paduan suara jadi lebih ceria. Versi yang ini lebih bening, tapi.
7. April is in my Mistress' Face
http://www.youtube.com/watch?v=EPDltGCotyk&safe=active
Terpesona dengan sahut-sahutan keempat suara, Sopran, Alto, Tenor, Bas. Ini lagu yang indah banget dan keempat pecahan suara semuanya sama-sama enak, tidak ada yang sekadar jadi pelengkap. Mirjam Strmole soprano yang bagus. Yang mengejutkan Alto-nya kuat, sampai di awal saya kira itu suara lelaki. Bas-nya juga terlatih dengan baik, kuat juga. Tenor-nya nggak begitu kuat .-.
8. Queen of the Night, Natalie Dessay
http://www.youtube.com/watch?v=9qqDKUKvoIs&safe=active
Saya penasaran kenapa Natalie Dessay awalnya tidak mau memerankan tokoh antagonis ini. Lagunya, seperti kebanyakan dari Mozart, aria yang bagus. Ada dua bagian yang sangat saya suka dari aria ini, saya kira yang dengar akan langsung menemukannya.
9. Lueur d'été
http://www.youtube.com/watch?v=xHiMm08y9CY&safe=active
Buat yang sudah nonton Les Choristes, kalau tidak salah ini bagian di mana mereka sempat bahagia sebentar di film itu, sebelum runyam lagi.
http://www.youtube.com/watch?v=aBtwGO97lNg&safe=active
Dari semua versi, Elizabeth Schwarzkopf memang paling jos dan saya nggak nemu tandingannya. Aria ini berbau ceria dan jadi lagu pas untuk mengembalikan mood baik :') kalau denger lagu ini saya membayangkan Thumbelina, peri bunga sebesar jempol.
2. Adele's Laughing Song
http://www.youtube.com/watch?v=P2lkXzmcMHg&safe=active
Lagu ini berulang dinyanyikan orang, tapi tetap versi aslinya yang paling penuh tekhnik. Lebih lagi, dia menjiwai betul sehingga terdengar sungguhan kayak orang ketawa yang menyanyi. Kenapa Adele ketawa? Kalau dilihat dari liriknya, Adele adalah cewek berdarah biru yang menyamar jadi pembantu dan majikannya meremehkannya. Tentu saja Adele ketawa, karena tahu siapa dia sebenarnya.
3. Das Tafellied, Brahms
http://www.youtube.com/watch?v=nypGo3d9tU8&safe=active
Lagu ini juga lucu banget. Dengar pembukaannya saja sudah bisa bikin ketawa. Ceritanya tentang para pria yang merayu para wanita di sebuah perjamuan, dan kata para wanita itu dalam hati, "Memangnya kalian pikir kami tidak tahu kalian merayu wanita-wanita lain juga?" Lucunya para wanita itu tetap berpura-pura sopan dan membalas salam mereka, sampai akhirnya mereka disatukan dansa di bangsal besar.
4. Der Tanz, Schubert
http://www.youtube.com/watch?v=zj8zQ2gEN2o&safe=active
Uah, kekayaan yang berlebihan memang bikin merinding. Tapi siapa yang bisa menolak berdansa di ruang dansa megah di bawah kandelir bertahtakan seribu lilin?
5. Flower Duet
http://www.youtube.com/watch?v=Vf42IP__ipw&safe=active
Lagu ini aromanya lebih sedih, tapi Reff-nya enak sekali.
6. Bonjour, et puis, quelles nouvelles?
http://www.youtube.com/watch?v=lRAhUbLKgo0&list=PL8E63652FB0D403FA&safe=active
Kalau dinyanyikan paduan suara jadi lebih ceria. Versi yang ini lebih bening, tapi.
7. April is in my Mistress' Face
http://www.youtube.com/watch?v=EPDltGCotyk&safe=active
Terpesona dengan sahut-sahutan keempat suara, Sopran, Alto, Tenor, Bas. Ini lagu yang indah banget dan keempat pecahan suara semuanya sama-sama enak, tidak ada yang sekadar jadi pelengkap. Mirjam Strmole soprano yang bagus. Yang mengejutkan Alto-nya kuat, sampai di awal saya kira itu suara lelaki. Bas-nya juga terlatih dengan baik, kuat juga. Tenor-nya nggak begitu kuat .-.
8. Queen of the Night, Natalie Dessay
http://www.youtube.com/watch?v=9qqDKUKvoIs&safe=active
Saya penasaran kenapa Natalie Dessay awalnya tidak mau memerankan tokoh antagonis ini. Lagunya, seperti kebanyakan dari Mozart, aria yang bagus. Ada dua bagian yang sangat saya suka dari aria ini, saya kira yang dengar akan langsung menemukannya.
9. Lueur d'été
http://www.youtube.com/watch?v=xHiMm08y9CY&safe=active
Buat yang sudah nonton Les Choristes, kalau tidak salah ini bagian di mana mereka sempat bahagia sebentar di film itu, sebelum runyam lagi.
Sabtu, 17 Mei 2014
If I Needed You
If I needed you would you come to me,
Would you come to me, and ease my pain?
If you needed me
I would come to you
I'd swim the seas for to ease your pain
Would you come to me, and ease my pain?
If you needed me
I would come to you
I'd swim the seas for to ease your pain
Ini ekspresi yang paling saya suka di film ini.
The Broken Circle Breakdown berkisah tentang sepasang bapak ibu muda yang gadis kecilnya terkena kanker. Pada mulanya mereka menghadapinya bersama, tetapi keadaan bertambah rumit setelah anak mereka meninggal. Si bapak yang tidak percaya Tuhan tidak punya tempat untuk membayangkan ke mana putri kecilnya pergi, dan tidak punya siapa-siapa untuk disalahkan. Si ibu, yang percaya, kehilangan kedekatan dengan si bapak yang polahnya, karena sedih, membuat orang menjauh. Alur ceritanya kadang maju, kadang mundur, namun digambarkan dengan epik. Semua potongan gambar sangat indah dan banyak bercerita.
Si bapak, laki-laki tinggi besar dan berewokan itu, ketika dikabarkan anaknya tiada, dia memasuki pintu kamar rumah sakit. Langkahnya terhenti, ekspresinya bertanya-tanya, "Kenapa?" Rahangnya bergetar. Sekali lagi, kenapa? Kenapa?
Setelah itu mereka sering bertengkar. Di suatu kesempatan mereka menyanyi di atas panggung, dan si bapak mencoba mengulurkan tangan. Kita sama-sama sakit di sini. Tetapi tidak disambut. Sehingga tangan itu kosong.
If I needed you, would you come to me? Would you come for to ease my pain?
Jumat, 16 Mei 2014
Attitude
G menyodok saya, "Coba kamu liat anak model sama anak padsu. Bueda."
Saya menoleh cepat, langsung tertarik dengan subjek kepribadian ini. Memang paling menyenangkan mengamati orang dengan warna-warnanya. Kadang kagum, kadang cemburu, kadang ngetawain aja. Tapi sisanya, menarik saja buat dilakukan. Disimpan di otak. Saya tidak tahu apakah harus menghindari stereotip, apalagi di negeri penuh kemajemukan ini. Lha wong individu saja kompleksnya sudah bukan main. Tapi memberi garis batas yang jelas pada warna-warna pelangi, berdiam di satu warna, lalu menyelam ke warna yang lain adalah rekreasi mewah. Dunia baru.
Kamu tidak harus menyukainya, cukup menaruh respek.
Kembali ke tribun tempat duduk anak-anak paduan suara di satu sisi, dan para model di sisi lainnya. Usia mereka kurang lebih sama, lingkungan sekolah mereka juga sama. Tetapi yang mencolok adalah, anak-anak model duduk dengan rasa percaya diri terpancar jelas. Entah aura dari mana. Bahasa tubuh mereka santai dengan tangan di lengan kursi, kaki bersilang, dan senyum. Kepercayaan diri mereka diletakkan di atas sepatu tumit tinggi, celana skinny. Belum apa-apa mereka sudah menang. Vini, vidi, vici. Dan penonton mendukung itu: mereka masih di backstage saja yang nonton sudah deg-degan. Mereka komunal, tetapi kelihatan individualistis. Mereka berteman di belakang panggung, tetapi mengutamakan profesionalisme di atasnya.
Anak paduan suara lebih merenung, lebih berpikir. Posisi mereka seperti patung Si Pemikir karya Rodin, kaki membuka untuk tempat bertumpu lengan dan tangan menangkup di bawah dagu. Mereka lebih tegang, berusaha mengantisipasi keadaan, tetapi mereka menyimpan kemenangan untuk belakangan, setelah mereka membuka suara. Mereka perlu membuka suara dulu untuk membuktikan. Dengan sentuhan rasa kerja keras dan gandengan tangan yang diperlukan. We did it, bukan I did it.
Sukses untuk kedua kelompok. Betapapun berbedanya kalian, dua-duanya menyiram saya dengan warna baru.
Saya menoleh cepat, langsung tertarik dengan subjek kepribadian ini. Memang paling menyenangkan mengamati orang dengan warna-warnanya. Kadang kagum, kadang cemburu, kadang ngetawain aja. Tapi sisanya, menarik saja buat dilakukan. Disimpan di otak. Saya tidak tahu apakah harus menghindari stereotip, apalagi di negeri penuh kemajemukan ini. Lha wong individu saja kompleksnya sudah bukan main. Tapi memberi garis batas yang jelas pada warna-warna pelangi, berdiam di satu warna, lalu menyelam ke warna yang lain adalah rekreasi mewah. Dunia baru.
Kamu tidak harus menyukainya, cukup menaruh respek.
Kembali ke tribun tempat duduk anak-anak paduan suara di satu sisi, dan para model di sisi lainnya. Usia mereka kurang lebih sama, lingkungan sekolah mereka juga sama. Tetapi yang mencolok adalah, anak-anak model duduk dengan rasa percaya diri terpancar jelas. Entah aura dari mana. Bahasa tubuh mereka santai dengan tangan di lengan kursi, kaki bersilang, dan senyum. Kepercayaan diri mereka diletakkan di atas sepatu tumit tinggi, celana skinny. Belum apa-apa mereka sudah menang. Vini, vidi, vici. Dan penonton mendukung itu: mereka masih di backstage saja yang nonton sudah deg-degan. Mereka komunal, tetapi kelihatan individualistis. Mereka berteman di belakang panggung, tetapi mengutamakan profesionalisme di atasnya.
Anak paduan suara lebih merenung, lebih berpikir. Posisi mereka seperti patung Si Pemikir karya Rodin, kaki membuka untuk tempat bertumpu lengan dan tangan menangkup di bawah dagu. Mereka lebih tegang, berusaha mengantisipasi keadaan, tetapi mereka menyimpan kemenangan untuk belakangan, setelah mereka membuka suara. Mereka perlu membuka suara dulu untuk membuktikan. Dengan sentuhan rasa kerja keras dan gandengan tangan yang diperlukan. We did it, bukan I did it.
Sukses untuk kedua kelompok. Betapapun berbedanya kalian, dua-duanya menyiram saya dengan warna baru.
Rabu, 23 April 2014
Dinda, Ibu Hamil, dan Path
Dinda, ibu hamil, dan Path. Ceritanya, Dinda komplain (saya lebih memilih kata ini daripada 'mencaci-maki') terhadap ibu hamil yang meminta dia untuk memberikan tempat duduknya di kendaraan umum. Dan lancarlah pengadilan maya berjalan. Setiap kali membacanya, saya sesak. Sedih. Tahu cerita Putu Wijaya, 'Peradilan Rakyat'? Keabu-abuan yang menyamarkan hitam-putih ditawarkan cerita pengacara yang dengan kelihaiannya membebaskan koruptor pemakan negara, untuk memperingatkan bangsa agar tidak lalai. Supaya tidak main-main dengan kejahatan. Bahkan bukan demi uang. Tentu saja pengacara itu mati, dibunuh amukan rakyat. Sedemikian mudahnya kita berbuat, mudah lupa, jika dalam kawanan. Kita begitu gampang, kan, tertawa keras-keras seperti tidak punya tetangga kalau sedang bercanda dengan teman-teman kita. Apa kata Mark Twain yang selalu saya ulang-ulang kepada diri sendiri? 'Jika Anda mendapati diri Anda berada dalam mayoritas, itulah saatnya Anda berhenti dan merenung'. Saya pikir di sinilah gunanya partai oposisi, untuk menjaga agar kita tetap waras. Tetapi tidak semua emosi kolektif melahirkan nasib seperti si pengacara. Koin Cinta untuk Prita juga produk dari gerakan massal.
Tidak terhindarkan, saya tidak bisa dengan tenang nonton bioskop duniawi ini. Sebagai bagian dari meja hijau relatif ini, kecenderungan saya adalah untuk membela tokoh ibu hamil. Kali ini saya mengkhianati sendiri kecenderungan yang sudah ber-SOP itu. Saya melihat sesuatu yang lain. Saya sesak untuk Dinda. Saya tidak menganggap pembelaannya elegan, tetapi tetap tidak bilang dia tidak punya empati. Mungkin kita para komentator lah yang tidak punya empati. Di antara sekian banyak pengadilan maya, masak sih tidak ada pengacara untuk Dinda? Ternyata ada. Satu di antara sepuluh laman yang keluar. Dan penulisnya bukan sebaya Dinda yang 'minta dipahami', tapi seorang ibu yang sudah punya beberapa anak.
Situasi ini tidak sama persis dengan yang dialami Dinda, tapi Anda bisa coba membayangkannya. Anda berangkat lebih pagi dari biasanya untuk mendapatkan tempat duduk, naik ojek sekali dan angkot dua kali ke stasiun, lalu di kereta seorang ibu hamil menepuk bahu Anda, menanyakan tempat duduk yang Anda dapatkan.
Apa yang akan Anda lakukan?
Di samping simpati, kalau memang ada, sebagai orang yang tidak mampu menolak, Anda mungkin tidak punya pilihan lain selain memberikan tempat duduk Anda. Kalau Anda menawarkannya sendiri, lain lagi ceritanya. Sesederhana pertanyaan, "Boleh minta kuemu?" waktu Anda sedang lapar. Pembela Dinda, ibu beranak empat tadi, malah dinilai tidak cukup mumpuni untuk menawarkan sudut pandang lain oleh seorang komentator, "kalau dilihat dari PP-nya yang kurang beradab (masak gambar kaki dijadikan PP)."
Ini pun hanya sudut pandang lain, dari orang yang overdosis pembicaraan hot dan sakaw udara. Kiranya berkenan.
Tidak terhindarkan, saya tidak bisa dengan tenang nonton bioskop duniawi ini. Sebagai bagian dari meja hijau relatif ini, kecenderungan saya adalah untuk membela tokoh ibu hamil. Kali ini saya mengkhianati sendiri kecenderungan yang sudah ber-SOP itu. Saya melihat sesuatu yang lain. Saya sesak untuk Dinda. Saya tidak menganggap pembelaannya elegan, tetapi tetap tidak bilang dia tidak punya empati. Mungkin kita para komentator lah yang tidak punya empati. Di antara sekian banyak pengadilan maya, masak sih tidak ada pengacara untuk Dinda? Ternyata ada. Satu di antara sepuluh laman yang keluar. Dan penulisnya bukan sebaya Dinda yang 'minta dipahami', tapi seorang ibu yang sudah punya beberapa anak.
Situasi ini tidak sama persis dengan yang dialami Dinda, tapi Anda bisa coba membayangkannya. Anda berangkat lebih pagi dari biasanya untuk mendapatkan tempat duduk, naik ojek sekali dan angkot dua kali ke stasiun, lalu di kereta seorang ibu hamil menepuk bahu Anda, menanyakan tempat duduk yang Anda dapatkan.
Apa yang akan Anda lakukan?
Di samping simpati, kalau memang ada, sebagai orang yang tidak mampu menolak, Anda mungkin tidak punya pilihan lain selain memberikan tempat duduk Anda. Kalau Anda menawarkannya sendiri, lain lagi ceritanya. Sesederhana pertanyaan, "Boleh minta kuemu?" waktu Anda sedang lapar. Pembela Dinda, ibu beranak empat tadi, malah dinilai tidak cukup mumpuni untuk menawarkan sudut pandang lain oleh seorang komentator, "kalau dilihat dari PP-nya yang kurang beradab (masak gambar kaki dijadikan PP)."
Ini pun hanya sudut pandang lain, dari orang yang overdosis pembicaraan hot dan sakaw udara. Kiranya berkenan.
Jumat, 03 Januari 2014
Kim Tan < Young Do
The Heirs. Kenapa aku nggak suka. Sebetulnya konsepnya bagus sih, anak-anak richie rich dan kehidupan mereka. Aku terutama suka pembagian kastanya, atau hierarki di sekolah mereka: anak-anak pewaris perusahaan, pemilik saham, anak-anak orang dengan jabatan terpandang, dan kelas peduli sosial. Hal-hal seperti itu kedengaran sangat keren, walau mungkin di dunia nyata bikin nggak enak. Tapi.
Kim Tan. Aku kecewa karena yang pertama kali dishoot adalah Kim Tan, yang artinya dia akan jadi tokoh utama. Dia kalah ganteng dibandingkan Young Do, dan kalah baik.
Ketika pertama kali berurusan dengan Eun Sang di rumah sakit, Kim Tan malah marah perihal temannya yang kesedak tepung kacang gara-gara ulahnya sendiri. Permulaan yang kurang keren untuk seorang tokoh utama cowok. Dan kebaikan yang dia lakukan setelahnya malah jadi terkesan dipaksakan oleh skenario. Memang sih Young Do bengal, tapi entah kenapa kebengalannya malah bikin dia tidak terlihat munafik. Oh, dan kisah cintanya terkesan dipaksakan.
Aku lebih suka cara Young Do mencintai Eun Sang.
Kalau dibandingkan dengan My Princess, yang juga sempat mengisahkan cinta segitiga, dua tokoh cowok yang ada masih lebih masuk akal. Park Hae-young yang menyebalkan tapi sebenarnya membela Lee Seol. Kalau ingin berpaling pada Nam Jung Woo juga tidak rugi. Profesor yang baik hati dan selalu menghibur dengan senyuman, walaupun rencana-rencananya masih kalah dipikirkan matang-matang dengan rencana-rencana Hae-young.
Oke. Tidak menghentikanku menonton The Heirs.... untuk lihat Young Do.
Kim Tan. Aku kecewa karena yang pertama kali dishoot adalah Kim Tan, yang artinya dia akan jadi tokoh utama. Dia kalah ganteng dibandingkan Young Do, dan kalah baik.
Ketika pertama kali berurusan dengan Eun Sang di rumah sakit, Kim Tan malah marah perihal temannya yang kesedak tepung kacang gara-gara ulahnya sendiri. Permulaan yang kurang keren untuk seorang tokoh utama cowok. Dan kebaikan yang dia lakukan setelahnya malah jadi terkesan dipaksakan oleh skenario. Memang sih Young Do bengal, tapi entah kenapa kebengalannya malah bikin dia tidak terlihat munafik. Oh, dan kisah cintanya terkesan dipaksakan.
Aku lebih suka cara Young Do mencintai Eun Sang.
Kalau dibandingkan dengan My Princess, yang juga sempat mengisahkan cinta segitiga, dua tokoh cowok yang ada masih lebih masuk akal. Park Hae-young yang menyebalkan tapi sebenarnya membela Lee Seol. Kalau ingin berpaling pada Nam Jung Woo juga tidak rugi. Profesor yang baik hati dan selalu menghibur dengan senyuman, walaupun rencana-rencananya masih kalah dipikirkan matang-matang dengan rencana-rencana Hae-young.
Oke. Tidak menghentikanku menonton The Heirs.... untuk lihat Young Do.
Langganan:
Postingan (Atom)

